Esensi dari perayaan Valentine’s Day adalah kasih sayang. Bukan cuma hura-hura atau pesta semu seperti yang kerap dilakukan oleh kaum muda saat ini untuk merayakannya. Kesalahan itulah yang terjadi pada generasi muda yang telah terdoktrin hedonis di negeri ini. Mereka tidak pandai mengambil sebuah hikmah. Mereka cuma mengedepankan kenikmatan semu yang hanya sesaat. Hakekat dari makna Valentine’s Day itu sendiri mereka tidak hiraukan.
Tengok saja kelakuan anak-anak muda sekarang. Mereka lebih suka hura-hura dan pesta pora ketimbang menyisihkan sedikit dari rezeki mereka untuk membantu sesama. Ini terlihat jelas dengan lebih banyaknya kaum muda yang nongkrong di mall ketimbang mengikuti kegiatan-kegiatan sosial, semisal pengumpulan dana untuk korban bencana alam di jalan-jalan, apalagi dengan menjadi relawan yang secara langsung turun ke lapangan pada tempat yang terkena bencana. Apalagi kini kaum muda mulai mengalami pergeseran makna tentang kasih sayang. Mereka lebih suka mengartikan kasih sayang sebatas dengan lawan jenis, padahal makna kasih sayang itu sendiri amatlah luas. Dan mereka mewujudkan kasih sayang dengan cara-cara yang tak baik, seperti berpacaran dengan berdua-duaan, hingga yang lebih parah lagi dengan berhubungan badan. Ungkapan kasih sayang yang salah pada anak-anak muda ini sekarang sudah menggejala dan hampir menjangkiti semua anak muda di negeri ini.
Kesalahan pemahaman tentang kasih sayang yang dialami kaum muda sebetulnya bukan sepenuhnya salah mereka. Banyak sekali yang berperan dalam hal ini. Mulai dari kurikulum di sekolah, masyarakat hinggga media massa. Kesemuanya itu memiliki andil dalam pergeseran pemahaman tentang nilai-nilai kasih sayang.
Kurikulum di sekolah sekarang cuma mengedepankan hasil yang berwujud nilai dalam sebuah buku raport. Selain itu sekarang sekolah bukan lagi sebagai tempat mendidik tapi sebatas mengajar dengan transfer ilmu belaka. Artinya, tanpa penanaman nilai-nilai sosial, termasuk nilai kasih sayang. Hubungan antara guru dan murid sebatas antara narasumber dan audiens, yang tanpa ada ikatan emosi. Hal itu tentu juga akan mempengaruhi hubungan masyarakat yang telah ada.
Di antara dampak yang sangat terasa dari mulai lunturnya nilai-nilai sosial yang menjadi dasar masyarakat kita saat ini adalah sikap apatis dan individualistis yang mulai menjangkiti jiwa-jiwa masyarakat Indonesia. Hal ini juga mempengaruhi tatanan hidup bermasyarakat yang telah ada. Sehingga dengan demikian perilaku kehidupan masyarakat sehari-hari pun telah berubah. Kini relatif sudah tak ada lagi jam malam orang bertamu. Masyarakat kian bebas dalam berperilaku. Mulai dari pegang-pegangan tangan hingga berpelukan di tempat umum, sudah dianggap biasa. Pacaran juga menjadi hal yang ‘wajib’ di kalangan anak muda. Kaum muda yang tidak berpacaran dianggap kuno.
Tidak hanya itu, kini media massa juga sangat berpengaruh dalam pola perilaku masyarakat. Media menanamkan budaya baru, yang membuat luntur pola kehidupan yang telah ada. Budaya-budaya yang masuk tanpa ada filter di depan, membuat semua terkafer dalam perilaku masyarakat. Sehingga ia telah membuat pergeseran-pergeseran dalam memaknai sesuatu. Termasuk makna Valentine’s Day yang identik dengan kasih sayang.
Hura-hura dan pesta pora kini tampaknya telah menjadi bagian gaya hidup kaum muda di negeri ini. Tengok saja apa yang dilakukan kaum muda kalau memiliki hajatan. Mulai dari ulang tahun, kelulusan, pernikahan, hingga perayaan hari-hari spesial seperti Valentine’s Day. Menggelar pesta pora dengan acara yang tidak sesuai dengan norma ketimuran, itulah yang sekarang sering kita temui. Norma ketimuran yang menjunjung tinggi norma susila dan norma sosial terdegradasi oleh budaya asing yang masuk tanpa filter. Budaya asing kini menjadi ancaman serius terhadap nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan nenek moyang sejak dulu.
Bisa dipahami bila sebagian orang bersikap anti terhadap perayaan Valentine’s Day. Mereka beranggapan, Valentine’s Day adalah produk budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya kita. Ini terjadi karena mereka melihat ulah para kaum muda dalam merayakan Valentine’s Day. Padahal sebetulnya kalau kita mau berpikir obyektif, perayaan Valentine’s Day itu bagus.
Memang, ibarat dua sisi mata uang, senantiasa ada sisi yang dianggap negatif. Dan itu wajar, karena Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan dua sisi. Sisi baik dan sisi buruk, itulah yang terjadi pula dengan perayaan Valentine’s Day.
Banyak tingkah yang dilakukan kaum muda untuk menunjukkan kasih sayang pada orang terdekat seperti sang kekasih atau sahabat. Ada juga saling bertukar cindera mata atau membagi kado kasih sayang antarteman. Ada pula yang diekspresikan dengan bahasa cinta, misalnya melalui kartu ucapan atau lewat SMS di ponsel. Atau merayakannya secara bersama-sama sambil menikmati makanan kesukaan. Dalam konteks menyalurkan rasa kasih sayang, hal itu sah-sah saja.
Tapi, sebetulnya, ada perbuatan yang lebih bermanfaat dan lebih sesuai dengan budaya kita dalam menyalurkan rasa kasih sayang itu. Kasih sayang tidak hanya dengan lawan jenis ataupun sahabat, tapi bisa lebih luas lagi. Yaitu dengan seluruh umat manusia dan alam semesta. Hal itulah tampaknya yang tidak diperhatikan oleh anak muda zaman sekarang.
Padahal, kini bangsa Indonesia sedang dalam masa duka yang luar biasa. Bencana tidak selesai-selesainya menimpa bangsa ini, mulai dari tsunami, gempa, gunung meletus, banjir bandang, tanah longsor, gizi buruk, busung lapar, penyakit DBD, diare, flu burung, semua menyerang berbagai daerah di Indonesia. Lebih bagusnya jika ungkapan kasih sayang diwujudkan dengan membantu mereka yang menjadi korban dari semua bencana tersebut. Ini akan lebih bermanfaat, dan juga akan sangat terasa manfaatnya bagi mereka.
Kasih sayang sendiri sebetulnya memiliki makna yang amat luas dan universal. Makna kasih sayang juga tak berujung. Hal inilah yang tampaknya kurang diperhatikan masyarakat kita belakangan ini. Mereka lebih sibuk dan senang dengan urusan diri sendiri, tanpa mau peduli dengan orang lain apalagi alam semesta. Akibatnya, muncul berbagai masalah kerawanan sosial di masyarakat maupun berbagai bencana alam. Kerawanan sosial terjadi karena ada gap (pembatas) antarindividu di masyarakat ataupun kelompok. Tingkat kesenjangan ekonomi menjadi faktor utama pemicu terbesar kerawanan sosial tadi, meski ada juga faktor lain seperti SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). ***
| Rabu, 11 Pebruari 2009 | |
| Oleh: Sri Sugiyati Anggota Jaringan Analis Sosial (JAS) Batam
|