Friday, February 13, 2009

Meriah Suasana Valentine's Day in Batam

Valentine’s Day diperingati setiap tanggal 14 Februari. Produk budaya luar ini sudah masuk dan mendarah daging di Indonesia. Kultur ini berasal dari zaman Romawi abad 17. Tapi kita tak perlu membahas ini lebih dalam. Yang mesti kita ingat dan pahami adalah esensi dari perayaan momen itu sendiri. Ini terlepas dari pro-kontra yang terkait dengan kultur atau kepercayaan.


Esensi dari perayaan Valentine’s Day adalah kasih sayang. Bukan cuma hura-hura atau pesta semu seperti yang kerap dilakukan oleh kaum muda saat ini untuk merayakannya. Kesalahan itulah yang terjadi pada generasi muda yang telah terdoktrin hedonis di negeri ini. Mereka tidak pandai mengambil sebuah hikmah. Mereka cuma mengedepankan kenikmatan semu yang hanya sesaat. Hakekat dari makna Valentine’s Day itu sendiri mereka tidak hiraukan.


Tengok saja kelakuan anak-anak muda sekarang. Mereka lebih suka hura-hura dan pesta pora ketimbang menyisihkan sedikit dari rezeki mereka untuk membantu sesama. Ini terlihat jelas dengan lebih banyaknya kaum muda yang nongkrong di mall ketimbang mengikuti kegiatan-kegiatan sosial, semisal pengumpulan dana untuk korban bencana alam di jalan-jalan, apalagi dengan menjadi relawan yang secara langsung turun ke lapangan pada tempat yang terkena bencana. Apalagi kini kaum muda mulai mengalami pergeseran makna tentang kasih sayang. Mereka lebih suka mengartikan kasih sayang sebatas dengan lawan jenis, padahal makna kasih sayang itu sendiri amatlah luas. Dan mereka mewujudkan kasih sayang dengan cara-cara yang tak baik, seperti berpacaran dengan berdua-duaan, hingga yang lebih parah lagi dengan berhubungan badan. Ungkapan kasih sayang yang salah pada anak-anak muda ini sekarang sudah menggejala dan hampir menjangkiti semua anak muda di negeri ini.


Kesalahan pemahaman tentang kasih sayang yang dialami kaum muda sebetulnya bukan sepenuhnya salah mereka. Banyak sekali yang berperan dalam hal ini. Mulai dari kurikulum di sekolah, masyarakat hinggga media massa. Kesemuanya itu memiliki andil dalam pergeseran pemahaman tentang nilai-nilai kasih sayang.


Kurikulum di sekolah sekarang cuma mengedepankan hasil yang berwujud nilai dalam sebuah buku raport. Selain itu sekarang sekolah bukan lagi sebagai tempat mendidik tapi sebatas mengajar dengan transfer ilmu belaka. Artinya, tanpa penanaman nilai-nilai sosial, termasuk nilai kasih sayang. Hubungan antara guru dan murid sebatas antara narasumber dan audiens, yang tanpa ada ikatan emosi. Hal itu tentu juga akan mempengaruhi hubungan masyarakat yang telah ada.


Di antara dampak yang sangat terasa dari mulai lunturnya nilai-nilai sosial yang menjadi dasar masyarakat kita saat ini adalah sikap apatis dan individualistis yang mulai menjangkiti jiwa-jiwa masyarakat Indonesia. Hal ini juga mempengaruhi tatanan hidup bermasyarakat yang telah ada. Sehingga dengan demikian perilaku kehidupan masyarakat sehari-hari pun telah berubah. Kini relatif sudah tak ada lagi jam malam orang bertamu. Masyarakat kian bebas dalam berperilaku. Mulai dari pegang-pegangan tangan hingga berpelukan di tempat umum, sudah dianggap biasa. Pacaran juga menjadi hal yang ‘wajib’ di kalangan anak muda. Kaum muda yang tidak berpacaran dianggap kuno.


Tidak hanya itu, kini media massa juga sangat berpengaruh dalam pola perilaku masyarakat. Media menanamkan budaya baru, yang membuat luntur pola kehidupan yang telah ada. Budaya-budaya yang masuk tanpa ada filter di depan, membuat semua terkafer dalam perilaku masyarakat. Sehingga ia telah membuat pergeseran-pergeseran dalam memaknai sesuatu. Termasuk makna Valentine’s Day yang identik dengan kasih sayang.


Hura-hura dan pesta pora kini tampaknya telah menjadi bagian gaya hidup kaum muda di negeri ini. Tengok saja apa yang dilakukan kaum muda kalau memiliki hajatan. Mulai dari ulang tahun, kelulusan, pernikahan, hingga perayaan hari-hari spesial seperti Valentine’s Day. Menggelar pesta pora dengan acara yang tidak sesuai dengan norma ketimuran, itulah yang sekarang sering kita temui. Norma ketimuran yang menjunjung tinggi norma susila dan norma sosial terdegradasi oleh budaya asing yang masuk tanpa filter. Budaya asing kini menjadi ancaman serius terhadap nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan nenek moyang sejak dulu.


Bisa dipahami bila sebagian orang bersikap anti terhadap perayaan Valentine’s Day. Mereka beranggapan, Valentine’s Day adalah produk budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya kita. Ini terjadi karena mereka melihat ulah para kaum muda dalam merayakan Valentine’s Day. Padahal sebetulnya kalau kita mau berpikir obyektif, perayaan Valentine’s Day itu bagus.
Memang, ibarat dua sisi mata uang, senantiasa ada sisi yang dianggap negatif. Dan itu wajar, karena Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan dua sisi. Sisi baik dan sisi buruk, itulah yang terjadi pula dengan perayaan Valentine’s Day.


Banyak tingkah yang dilakukan kaum muda untuk menunjukkan kasih sayang pada orang terdekat seperti sang kekasih atau sahabat. Ada juga saling bertukar cindera mata atau membagi kado kasih sayang antarteman. Ada pula yang diekspresikan dengan bahasa cinta, misalnya melalui kartu ucapan atau lewat SMS di ponsel. Atau merayakannya secara bersama-sama sambil menikmati makanan kesukaan. Dalam konteks menyalurkan rasa kasih sayang, hal itu sah-sah saja.
Tapi, sebetulnya, ada perbuatan yang lebih bermanfaat dan lebih sesuai dengan budaya kita dalam menyalurkan rasa kasih sayang itu. Kasih sayang tidak hanya dengan lawan jenis ataupun sahabat, tapi bisa lebih luas lagi. Yaitu dengan seluruh umat manusia dan alam semesta. Hal itulah tampaknya yang tidak diperhatikan oleh anak muda zaman sekarang.


Padahal, kini bangsa Indonesia sedang dalam masa duka yang luar biasa. Bencana tidak selesai-selesainya menimpa bangsa ini, mulai dari tsunami, gempa, gunung meletus, banjir bandang, tanah longsor, gizi buruk, busung lapar, penyakit DBD, diare, flu burung, semua menyerang berbagai daerah di Indonesia. Lebih bagusnya jika ungkapan kasih sayang diwujudkan dengan membantu mereka yang menjadi korban dari semua bencana tersebut. Ini akan lebih bermanfaat, dan juga akan sangat terasa manfaatnya bagi mereka.


Kasih sayang sendiri sebetulnya memiliki makna yang amat luas dan universal. Makna kasih sayang juga tak berujung. Hal inilah yang tampaknya kurang diperhatikan masyarakat kita belakangan ini. Mereka lebih sibuk dan senang dengan urusan diri sendiri, tanpa mau peduli dengan orang lain apalagi alam semesta. Akibatnya, muncul berbagai masalah kerawanan sosial di masyarakat maupun berbagai bencana alam. Kerawanan sosial terjadi karena ada gap (pembatas) antarindividu di masyarakat ataupun kelompok. Tingkat kesenjangan ekonomi menjadi faktor utama pemicu terbesar kerawanan sosial tadi, meski ada juga faktor lain seperti SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan). ***

Batam pos : Refleksi Valentine’s Day, Kasih Sayang, Esensinya Apa?
Rabu, 11 Pebruari 2009
Oleh: Sri Sugiyati
Anggota Jaringan Analis Sosial (JAS) Batam



Valentine's Day in Batam

Seiring merebaknya budaya konsumerisme dan hedonisme yang mewujud dalam glamoritas kehidupan, kebanyakan remaja semakin menyakini bahwa Valentine’s Day (hari valentine) yang jatuh pada tanggal 14 Februari merupakan momentum menumpahkan rasa kasih sayang mereka terhadap orang-orang yang dikasihi dan dicintainya. Bermacam-macam cara dilakukan sebagai simbol rasa kasih sayang. Mulai dari pengiriman kartu, bunga, barang-barang yang berwarna pink, berbagai bentuk dan macam coklat hingga cincin atau kalung berlian. Lebih dari hal tersebut, sebagian orang yang merasa peduli dengan hadirnya Valentine’s Day, juga menunjukkan sikap apresiatif yang berbeda, mulai dari perspektif budaya, sosial, etika, agama, dan adat istiadat.


Dalam beberapa catatan, hari Valentine pada dasarnya berasal dari sebuah hari raya Katolik Roma. Hari raya ini sebelumnya tidak diasosiasikan dengan cinta yang romantis sebelum akhir abad pertengahan ketika konsep-konsep semacam ini diciptakan. Kisahnya bermula ketika Raja Claudius II (268-270 M), yang mempunyai kebijakan melarang prajurit-prajuritnya untuk menikah. Menurut Raja Claudius II, bahwa dengan tidak menikah maka para prajurit akan agresif dan potensial dalam berperang. Kebijakan ini ditentang oleh Santo Valentine dan Santo Marius, mereka berdua secara diam-diam tetap menikahkan para prajurit dan muda-mudi, lama-kelamaan tindakan mereka diketahui oleh Raja Claudius, sang rajapun marah dan memutuskan untuk memberikan sanksi kepada St Valentine dan st Marius yaitu berupa hukuman mati.


Sebelum dihukum mati, St Valentine dan St Marius dipenjarakan dahulu, dalam penjara Valentine berkenalan dengan seorang gadis anak sipir penjara dan jatuh cinta, kemudian gadis ini setia menjenguk Valentine hingga menjelang kematiannya. Sebelum dihukum mati, Valentine masih sempat menulis pesan kepada kekasihnya itu, yang pada tiap akhir surat ditulis: ”From Your Valentine”. Setelah kematian St Valentine dan St Marius, orang-orang selalu mengingat kedua santo tersebut dan merayakannya sebagai bentuk ekspresi cinta kasih Valentine. Hingga dua ratus tahun kemudian yaitu tahun 496 M setelah kematian St Valentine dan St Marius, Paus Galasius meresmikan tanggal 14 Februari 496 M sebagai hari Velentine. Itulah sejarah hari Valentine yang ternyata untuk mengenang dan memperingati dua orang suci Kristen Katolik yang mengorbankan jiwanya demi kasih sayang.


Terkait cerita ini, ada versi lain tentang sejarah hari Valentine, yaitu pada masa Romawi Kuno, tanggal 14 Februari merupakan hari raya untuk memperingati Dewi Juno, ratu dari segala dewa dan dewi. Orang-orang Romawi kuno juga meyakini bahwa Dewi Juno adalah dewi bagi kaum perempuan dan perkawinan, dewi cinta. Pada tanggal 14 Februari orang-orang Romawi Kuno mengadakan perayaan untuk memperingati Dewi Juno dengan cara memisahkan kaum laki-laki dan perempuan.


Pada abad ke-16 Masehi, perayaan Valentine yang semula merupakan ritual milik agama Kristen Katolik telah berangsur-angsur bergeser, yang semula untuk memperingati kematian St Valentine dan Marius telah bergeser menjadi hari ”Jamuan Kasih Sayang” yang disebut sebagai ”Supercalis” seperti yang dirayakan oleh bangsa Romawi Kuno pada tiap tanggal 15 Februari. Sedangkan pada abad pertengahan di dalam bahasa Perancis-Normandia terdapat kata ”Galentine” yang berasal dari kata Galant yang berarti cinta, persamaan bunyi antara Galentine dan Valentine disinyalir telah memberikan ide kepada orang-orang Eropa bahwa sebaiknya pada tanggal 14 Februari digunakan untuk mencari pasangan. Dan kini Valentine telah tersinkretisasi dengan peradaban Barat. Valentine telah menjadi bentuk pesta hura-hura, simbol modernitas, simbol cinta, hedonisme, dan sudah mulai bernuansa pergaulan bebas dan seks bebas.


Kebiasaan mengirimkan kartu Valentine yang sekarang ini marak sebenarnya tidak ada hubungannya dengan St Valentine atau pesta Lupercalia. Konon kartu Valentine ini adalah kartu yang pertama keluar untuk jenis kartu ucapan. Pada saat itu orang belum mengenal jenis kartu ucapan yang lainnya. Saat pesta Lupercalia mulai ditinggalkan, para pemuda Romawi tetap menggunakan kebiasaaan ini untuk mengajak kencan gadis idamannya dengan memberikan kartu tulisan tangan di tanggal 14 Februari. Tapi kartu Valentine yang sebenarnya pertama kali dikirim oleh Charles, seorang bangsawan dari Orleans, di tahun 1415 untuk istri tercintanya. Saat itu Charles sedang di penjara di Tower of London yang sekarang sudah menjadi museum. Dari sanalah kemudian kebiasaan mengirim kartu itu terus berkembang sampai sekarang.


Tahun demi tahun hiruk-pikuk valentine makin bertambah instensitasnya, tidak hanya muda-mudi di kota-kota besar di beberapa wilayah Indonesia yang mengenal Valentine dan merayakannya, tetapi kini sudah semakin merambah ke muda-mudi desa-desa kecil di seantero Indonesia yang konon berbudaya Timur ini. Melalui momentum Valentine Day atau hari kasih sayang saat ini, kita jadikan sebagai momentum untuk kembali memaknai apa sesungguhnya hakikat dari Valentine’s Day. Apakah sebagai hari kasih sayang yang sejati ataukah hanya kasih dan sayang semu dan kepuasan sesaat yang identik dengan budaya Barat. Karena sejatinya kasih sayang itu hadir di sepanjang masa dan waktu, tidak hanya pada tangal 14 Februari.



Akhirnya membenarkan ungkapan John Hick dalam God and The Universe of Faiths (1973), bahwa tugas manusia untuk hidup bersama adalah sebagai mitra dalam dunia multireligius dan multikultur yang penuh kasih dan cinta. Sehingga yang harus tetap ditekankan adalah kasih sayang harus dicurahkan tidak hanya pada tanggal 14 Februari saja tetapi diseluruh hari-hari lain di sepanjang tahun dan disepanjang hidup. Itulah hakikat cinta yang sebenarnya. ***

BATAM POS : Valentine’s Day dan Ungkapan Kasih Sayang

Jumat, 13 Pebruari 2009


Oleh: Novita Lestari
Pemerhati Sosial-Politik pada The Progresive Institute Yogyakarta